Oleh: tyo | Desember 9, 2010

Kerupuk Kemplang dan Anak kecil pertigaan Unila

Salam,

ada hal menarik malam ini dan sedikit…hmm gak berlebihan kalo gw menyebutnya menyedihkan, memilukan atau apapun. yang pasti apa yang terjadi malam ini, semakin membuat gw harus sangat wajib untuk senantiasa bersyukur, syukur atas apa yang Allah kasi buat gw, dan ternyata itu sangant banyak dan berlimpah.

ya, malam ini gw sangat pengen kerupuk kemplang, sebenarnya sudah lama malam ini puncaknya gw pengen makanan palembang itu. dalam benak gw gak ada sedikitpun ragu alias gak berpikir panjang buat beli kemplang ini. lagian gw pikir gak seberapa harga kemplang dibandingkan nafsu gw yang lagi muncak buat kemplang itu, disamping itu gw punya cukup berlebih uang bukan sekedar beli kemplang ini. well, kesimpulan induktif dari paragrap ini adalah saya bisa mendapatkan apa yang saya pengen dengan amat mudah. bahkan bebrapa bulan lalu, terbeli oleh gw kamera mahal yang emang sudah lama gw pengen. dan itulah yang terjadi, hal yang gw dapet adalah gw bisa dapet apa yang gw pengen dengan mudah (walaupun hanya sebungkus kemplang).

hal lain. sepulang dari beli kemplang dan sudah berharap segera nikmatin ni kerupuk, di pertigaan lampu merah unila seperti biasa gw harus berhenti sebentar buat nunggu lampu menyala hijau. waktu itu gw ada di belakang 2 mobil dan beberapa motor. dibagian paling depan motor tertarik oleh gw ngeliat anak kecil yang meminta-minta (entahlah, walaupun gw setiap hari pertigaan ini, gw gak pernah liat anak ini sebelumnya). anak itu gw kira gak lebih dari 4 tahun, gak jauh dari umur keponakan gw si Alghi. kalo ngeliat anak kecil ada ditengah-tengah jalan kayak gitu, gw selalu berpikir mengutuk orang tua anak itu, dimana mereka sehingga sedemiakn tega anak sekecil itu mencari seribu dua ribu uang buat beli nasi. apa yang mereka pikirkan dengan mempekerjakan anak dengan amat tidak layak macam itu, Komnas perlindungan anak call it “eksploitasi anak”, keren sekali istilah itu, padahal seperti yang gw bilang, menyedihkan….

seperti anak-anak jalanan kebanyakan, dengan mengiba-iba anak kecil ini meminta belas kasihan satu persatu pengendara motor dan mobil didepan gw. dan gak ada satupun dari mereka yang memberi. belum sampai saat gilarin gw untuk dimintai, keburu lampu hijau menyala. pengendara motor sudah biasa mengibas tangannya tanda menolak memberi, tapi bukan itu yang menarik. yang menarik bagi gw adalah karena tidak satupun orang yang memberikan belas kasiannya, you know anak kecil pengghuni pertigaan lampu merah Unila itu menangis, benar-benar menangis, bukan menangis dibuat-buat demi ibanya orang toh disitu sudah gak ada orang lagi karna lampu hijau menyala dan mereka mengeber gas kendaraan masing-masing. tapi entahlah, dari suaranya menangis aja gw bener bisa ngerasaiin rasa kecewa putus asa sedih cape, dia pengen sesuatu, tapi dia gak bisa dapet Tuhan…gw gak tau apa yang gw rasa waktu itu, gw terasa harus ikut sedih juga, peduli anjing dengan lampu hijau dan klakson buru-buru dari belakang gw memelankan motor untuk sekedar memberi selembaran sama anak itu.

2 ratus sampai 3 ratus meter dari pertigaan itu masih gw mikirin anak kecil itu, masih aja tetap ada rasa iba. gw sedih memikirkan dia, tapi bahkan gw gak tau namanya. tapi entahlah, gw harus memastikan apa yang terjadi dengan anak itu, gw mutar arah untuk kembali ke pertigaan itu. masih ada dia disana, dan berhenti menangis, syukurlah…masih duduk dia sesekali berdiri buat meminta lagi dengan kendaraan yang kebetulan berhenti. lumayan lama gw memperhatikan anak itu, memastikan keadaanya dan gak perduli lagi dengan kemplang. sampai bebrapa lama satu persatu ternyata masih ada orang baik sudi memberi sedikit uang sama anak kecil itu. terakhir gw ngeliat ada sesorang memberi bungkusan nasi besek, dan you know…dia tersenyum (mata gw sedikit berkaca-kaca mengingat momen mengarukan ini), Tuhan ternyata mungkin di kelaparan.

setelah menerima bungkusan itu dia sudah gak sibuk lagi meminta-minta dengan orang yang berhenti, tapi dia justru sibuk duduk sambil melihat-lihat isi bungkusan itu. gak berapa lama dia berdiri dan mengambil kresek putih yang dikaitkan ditiang lampu merah entah isinya apa. lalu dia pergi…dengan wajah seperti puas. Ya Allah, ternyata dia cuman pengen makan. tapi dengan amat susah dia untuk ngedapatin itu. dan dengan umur sekecil itu. sementara saya, rejeki yang Allah kasi begitu cukup sangat melimpah, walaupun gak berlebih. tapi setidaknya gw bisa dapat apa yang gw pengen dengan mudah, makan minum, baju yang lumayan, kamera mahal, isi pulsa modem yang mahal, dsb dsb.

jadi, fabi ayyi aalaa irobbikumaa tukadzzibaan (Ar Rahmaan adalah surat ke 55 dalam Al Qu’an yang berarti Yang Maha Pengasih. ayat ini yang diulang-ulang sebanyak 29 kali), Nikmat manalagi bisa didustakan…

Ya Allah, Ampuni aku, lindungi aku dari kufur kepadaMu…


Tanggapan

  1. :) bersyukur dan tidak takabur, bismillah.. :)
    tukeran link ya yo http://ureechan.wordpress.com/
    sekalian titip pempek ceknayu nya :)

  2. yo…ayo..
    aktivib blog lagieeeeeeee
    jangan pipis terus di pinggir panteee..
    btw nih blog gag bisa kasih komen kalo gag login pake wordpress ya..
    wawawawa aku kan blogspot

  3. siap-siap, kita budayakan nulis yuk mari…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.