Oleh: Trio Adi | Maret 23, 2010

Bintang Kecil Warna Biru (sequel story of ‘bintang terang warna putih’)

Anak kecil yang lusuh dan kumal itu terduduk diam dia diatas kotak kayu entah bekas apa, dagunya ditopangkan ditangannya, sambil terpekur menatap tanah yang basah, dua kecoa yang mungkin sedang kasmaran melintas mengejek melintas didepannya, matanya terus mengekor dua kecoa itu sampai mereka benar-benar hilang dibawah kotak sampah yang sudah penuh, mencari makan sepertinya. Sendiri dia disudut kota itu, ironik dari jauh nampak keramaian pria wanita bahkan waria sibuk dengan urusan masing-masing, berteriak, cekikikan, bicara kasar, sedang anak kecil itu hanya diam sendirian, sesekali angin malam menampar-nampar muka dan tubuhnya, dingin…. suara-suara binatang malam penuh misteri masih tetap menakutkan. Ingin pulang dia, tapi kemana arahnya, tak ada yang bisa menuntunnya. Ditatapnya lagi langit malam itu, ah masih terlihat gelap, masih hitam tak bersabat padahal beberapa waktu lalu bintang warna putih bersinar terang, sedikit menenangkan dirinya dimalam yang pekat, ingin dia bintang putih itu menuntunnya pulang, tapi bintang putih itu sepertinya tidak berkenan, dia benar-benar hilang dibalik awan hitam pekat itu, entahlah apa yang terjadi dengan bintang itu. Ahh… Sudahlah, mungkin memang bintang putih itu gak mau menemaninya dan gak mau menuntunnya pulang, gak mau bersama-samanya, dan gak mau dimiliki oleh anak kecil lusuh dan kumal seperti dia. Menopang lagi dia dengan tangannya, terpekur lagi menatap tanah, sambil berpikir dan berharap ada sesuatu yang bisa menenangkan hatinya, menuntunnya untuk pulang……… rasanya lama betul dia sendiri dimalam itu, sambil sesekali meregangkan tangannya karena kesemutan menopang beban berat kepalanya, hanya ditemani angin malam dingin, dan suara binatang malam yang aneh dan misterius, dan dua kecoa itu tentunya, entahlah itu dua kecoa kasmaran yang sama atau bukan, hilir mudik entah melakukan apa, tetap saja mengejek agaknya. Bosan dia, dilihatnya lagi langit yang luas hitam pekat, sekelebat ada setitik cahaya dari arah barat, dengan terkejut dan segera berdiri untuk meyakinkan pandangannya dilihatnya lagi, terlihat samar, benarkah itu bintang? Masih samar sambil dia memicingkan matanya untuk meyakinkan, masih terlihat samar, Terduduk lagi dia dengan sedikit kecewa, sudahlah hanya ilusinya saja nampaknya. Pensaran dia…. terdongak lagi melihat keatas, masih ada bintang itu tapi masih samar, rupanya bintang itu nyata, bukan ilusi seperti dugaannya, bintang itu seperti tak asing, Ya yakin dia pernah melihat bintang itu, tiba-tiba dengan tegas di berdiri dari kotak entah bekas apa itu,dengan bergumam dalam hati, bintang itu pernah sedikit menyinarinya dan aku tidak mau kehilangannya lagi, aku akan meyakinkan bintang itu ada dengan berlari mengejar ke arahnya. Dengan sisa-sisa tenaganya karena semalaman kebingungan di sudut kota , berlari dia ke barat menuju arah bintang itu, berlari dia melewati orang berbagai bentuk dan rupa, sesekali ada yang meneriakinya, memakinya, entahlah mungkin karena tak sengaja dia menyenggol, beberapa ada juga yang menggodanya, terus dia berlari sambil menatap bintang itu…. aha semakin jelas, terus dia berlari, semakin jelas saja, semakin kencang dia berlari, semakin jelas dan…ohh Tuhan dia begitu mengagumkan, dia berwarna biru, dia pernah lihat bintang ini walau samar tapi tak sadar kalo bintang itu berwarna biru, bintang itu berwarna biru, sangat mengagumkan…, Berhenti dia sebentar kelehahan sambil terus menatap bintang itu… Bintang itu biru, terlihat kecil tapi tetap saja mencolok  diantara gelap malam yang pekat, anak kecil kumal dan lusuh itu memanggilnya Bintang kecil warna biru, berteriak anak kecil lusuh dan kumal itu, tolong jangan hilang bintang kecil warna biru, jangan mau awan hitam menutupmu, dan kembali anak kecil itu berlari…, sambil terus berteriak, bintang kecil warna biru jangan meredup, bintang warna biru jangan menutup. Terus berlari dia, semakin jelas bintang kecil warna biru itu…. dan berhenti anak itu dipinggiran kota, kali benar-benar kelelahan namun terus berteriak dia, bintang kecil warna biru mau kau terus menemaniku? bintang kecil warna biru mau kau terus menerangiku langkahku? Bintang kecil warna biru aku sayang sama kamu, bintang kecil warna biru aku sayang sama kamu, bintang kecil warna biru aku sayang sama kamu………(disudut pojok ruang kerja; 23 Maret 2010).

Kamu mau jadi Bintang kecil warna biruku?

20 April 2010,  yah yah yah, bintangnya meredup…dan akhirnya hilang sama sekali tertutup awan, bintang biru pun tak mau menemani anak kecil lusuh dan kumal itu layaknya bintang putih juga menolak anak kecil itu, memang tak pantas kah seorang anak kecil mendapat bintang berwarna yang cantik atau masih ada bintang berwarna lain yang lebih cantik buat anak kecil kumal lusuh itu, semoga saja begitu…

Tapi anak kecil ini sayang banget sama bintang kecl warna biru ini, dan dia amat yakin dengan perasaannya….SANGAT YAKIN

Iklan

Responses

  1. Anak kumal ayo mandi, biar wangi… hehehe semangattt…

  2. bener juga ya mbak pur, tapikan harusnya bintang kecil mau terima anak kecil sekumal apapun apa adanya…

  3. bintang kecil warna ungu wes raono yo bos?


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: